Kamis, 30 Mei 2013

TEKNIK PENGANJIAN SPUN POLYESTER

POLYESTER -  SIZING TECHNIQUE


Kain Polyester

Kain dari bahan Polyester 100% atau campuran polyester adalah kain sintetic / campuran sintetic yang sangat popular. Berkat kemajuan teknologi spinning untuk serat polyester ada banyak jenis serat polyester yang dapat diproduksi, dengan bentuk potongan melintang yang tak beraturan (irregular cross sectional) seperti tipe “sutera”, tipe “wool” dsb, menjadikan kain kain polyester dapt ditemukan dengan mudah dipasar. Serat polyester kebanyakannya di campur/blending dengan serat cotton, disusul campuran dengan rayon dan ramie/linen. Yang paling terkenal adalah campuran 65% polyester dan 35% cotton, atau biasa dikenal dengan sebutan “P65/C35”.
Rasio perbandingan campuran antara polyester dan cotton tergantung dari penggunaan, sedangakan rentang aneka  nomor benang yang dibuat dari serat ini sungguh sangatlah luas.

Sifat- sifat serat polyester

Tingkat kebasahan, 25ºC dan RH 65%                               0.4%

Tingkat kebasahan, 25ºC dan RH 95%                               0.6 ~ 0.7%

Kandungan air yang diperkenankan                                   0.4%

Gauss’transition point                                                       70 ºC

Strength g/denier (kering)                                                4.4 – 5.5 g/D

Strength g/denier (basah)                                                 4.4 – 5.5 g/D

Elongation % (kering)                                                       40 – 50%

Elongation % (basah)                                                        40 – 50%



Seperti terlihat dalam table, serat polyester memiliki tingkat kebasahan/ daya serap terhadap titik air tinggi, memiliki tingkat recovery yang tinggi terhadap tarikan dan kuat terhadap panas, juga kekuatan tarik dan daya mulurnya tidak berubah ketika basah.

Polyester sungguh kuat/tahan terhadap panas, dan hasil percobaan menunjukkan bahwa tingkat warna tidak mengalami penurunan (tidak menjadi buram) dan kekuatan tidak turun lebih dari 30% setelah 168 jam pemanasan dengan suhu 150 ºC.

Instruksi untuk menganji polyester 100%

1.   Untuk menganji polyester 100%, apakah menggunakan PVA (polyvinyl alcohol) sendirian atau dicampur dengan SEDIKIT starch, maka PVA dengan derajat polymerisasi P=2000 harus digunakan. Tambahkan PVA dengan P=500 apabila konsentrasinya perlu tinggi (high density) dengan tetap menjaga kekentalannya. PVA dengan jenis saponifikasi sebagian (partially hydrolyzed) harus dipakai ketika proses pertenunan menggunakan kelembaban tinggi.

2.   Jika daya lekat tidak cukup dengan PVA sendirian, tambahkanlah acrylic secukupnya.

3.   Sejumlah kecil silicone (0,05 ~ 0,1%) perlu ditambahkan untuk meningkatkan kelicinan dan menjaga bulu serat tidak timbul dan untuk mempermudah pemisahan lalatan lusi setelah keluar dari cylinder drier.

Catatan: 

a. Hati- hati, silicone dapat menyebabkan gagal laminating pada kain- kain yang akan dilapisi seperti kain gumed tape. Juga dalam jumlah tertentu dapat memblok zat warna sehingga menyebabkan kualitas pewarnaan jatuh.

b. Hati- hati pula dengan CMC (Carboxyl Methyl Cellulose) yang dapat menyebabkan gagal proses laminating bila produk akhir harus di laminated.

4.   Karena sifat serat polyester adalah lembut, maka tidak dibutuhkan softening agent apapun.

5.   Untuk serat polyester khusus dengan bentuk “irregular cross sectional”, bulu yang muncul tidak mudah terpisah ketika mereka bertaut, maka lapisan kanji yang dapat menidurkan bulu dengan baik adalah sangat penting untuk mencegah munculnya bulu akibat gesekan.

6.   Untuk benang polyester dengan twist tinggi, maka konsentrasi dan viscositas harus lebih rendah dari polyester yang normal.

7.   Demikian juga untuk benang polyester yang dipintal dengan teknik AIR JET/VORTEX SPINNING, maka viscositas dan konsentrasi bisa dibuat lebih rendah dari pada ketika menganji untuk benang RING SPINNING polyester.


Contoh formula kanji untuk kain spun polyester 100%

Nama kain


Bahan kanji
60’s Lawn

100 x 95
60 x  60
40’s Lawn

80 x 80
40 x 40
30’s Lawn

60 x 60
30 x 30
Irregular cross section 60’s

90 x 80
60 x  60
High twist
600 ~ 700
90 x 88
60 x  60

Starch


2.5 – 2.7

2.5 – 2.7

2.3 – 2.5

1.8 – 2.0

2.0 – 2.2

PVA


6.3 – 6.5

6.0 – 6.2

5.3 – 5.5

6.5 – 6.7

5.0 – 5.3

Acrylic


1.3 – 1.5

1.0 – 1.2

1.0 – 1.2

1.0 – 1.2

1.2 – 1.3

Silicone


0.07 – 0.1

0.07 – 0.1

0.07 – 0.1

0.07 – 0.1

0.07 – 0.1
Anti static agent


0.05– 0.07


0.05– 0.07


0.05– 0.07


0.07 – 0.1

0.07 – 0.1

CMC


0.3 – 0.4

0.3 – 0.4

0.2 – 0.3

0.4 – 0.5

0.2 – 0.3
Concent/
Refracto (%)

11

10

10

10

9

Take Up%


12 - 15

11 - 14

10 - 13

10 - 11

8 - 9
Size temperature
(º C)

80 - 85

80 - 85

80 - 85

80 - 85

80 - 85







Catatan: Usahakan selalu pakai double size box dan wet splitting



Kain Polyester Blended Yarn/ Benang Spun Campuran Polyester Cotton atau Rayon

Kain polyester blended yarn ditenun memakai benang spun blended yarn. Benang polyester blended utamanya dengan campuran cotton atau rayon. Jenis polyester blended yarn paling umum adalah “polyester 65%/cotton 35%”, biasa disebut: P65/C35. Di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan TC, singkatan dari T= Tetoron, suatu merek polyester yang terkenal – dan C= Cotton. Benang blended lain yang cukup popular yaitu P/R, yaitu blended/ campuran antara polyester dengan rayon, di Indonesia populer dengan sebutan T/R (Tetoron/ Rayon).

Serat polyester yang akan di blended/ dicampur dibuat dengan aneka jenis, seperti jenis regular/ biasa, jenis intermediate stretching, atau jenis high strength low elongation.

Ukuran paling popular pada serat polyester individual adalah 1.4 – 1.5 denier dengan panjang serat 37mm sampai 38mm.

Jika kehalusan serat makin kasar, maka jumlah serat pesatuan unit panjang menjadi sedikit sehingga penutupan bulu menjadi lebih sulit karena serat semakin besar. Maka akibatnya banyak bulu keluar dari benang dan bulu yang saling bertaut tidak mudah putus menjadikan pembukaan mulut lusi menjadi buruk, berakibat menghambat peluncuran pakan. Dan jika kehalusan serat bertambah, maka titik kontak pada serat makin sedikit sehingga benang mudah putus karena meningkatnya inter sliding dari serat, maka bahan kanji acrylic yang memiliki daya rekat kuatpun harus ditambahkan untuk mengatasi masalah itu.

Jika serat khusus yang dipakai yaitu jenis “irregular cross sectional”, maka penganjian menjadi lebih sulit dibanding menganji serat polyester normal karena bulunya cenderung lebih banyak sehingga kemungkinan bulu saling
terkait menjadi lebih besar.

Contoh resep kanji Tetoron/ Cotton TC 45 (65/35)

Nama kain


Bahan kanji
30’s
Shirting
80 x 70
30 x  30
30’s

80 x 70
30 x  30
45’s
Broad
132 x 72
45 x  45
67’s
Lawn
70 x 70
67 x  67
45’s
Burberrys
150 x 75
45 x  45

Starch


2.5 – 3.0

6.0 – 6.5

3.5 – 4.0

2.5 – 3.0

3.5 – 4.0

PVA


3.5 – 4.0

2.0 – 2.5

5.5 – 5.7

5.0 – 5.5

5.7 – 6.0

Acrylic


0.6 – 0.8

0.6 – 0.8

1.0 – 1.2

1.0 – 1.2

1.2 – 1.25

Silicone


-

0.05

0.05

0.05

0.07

Oiling agent


0.5 – 0.55

0.55 – 0.6


0.5 – 0.6


0.5 – 0.6


0.5 – 0.6


CMC


       -

-

-

-

-
Concent/
Refracto (%)






Take Up%


9 - 10

12 - 13

11 - 12

11 - 12

13 - 15
Size temperature
(º C)

90 - 93

90 - 93

90 - 93

90 - 93

90 - 93



Contoh resep kanji Tetoron/ Rayon T/R (65/35)

Nama kain


Bahan kanji
30’s
Shirting
80 x 70
30 x  30
30’s

80 x 70
30 x  30




Starch


2.5 – 3.0

2.5 – 3.0




PVA


5.0 – 5.5

5.5 – 5.8




Acrylic


1.0 – 1.2

1.2 – 1.5




Silicone


0.07

0.07




Oiling agent


0.5 – 0.6

0.5 – 0.6




CMC






Concent/
Refracto (%)






Take Up%


10 - 11

12 – 13



Size temperature
(º C)

80 +/- 3

80 +/- 3







Kain Dengan Benang Campuran Spun Polyester/ Ramie

Menganji benang- benang campuran polyester/ ramie benar- benar sulit, sesulit menganji benang 100% wool.
Adalah mungkin untuk menganji benang tersebut dengan relative mudah sampai nomor 30’s. Namun jika nomor benang melebihi nomor ini, mungkin hasil sizing akan jelek dan sangat sulit ditenun. 

Alasannya bisa dijelaskan demikian: adalah sangat besar bedanya antara daya mulur serat polyester yang mencapai 40 – 50% disbanding ramie yang hanya berkisar 1.8 – 2.3%. Kehalusan serat (fineness) ramie adalah kasar/ besar,dan strength (kekuatan tariknya) tinggi dan bulu- bulunya sangat sulit untuk dibuat tidur. Seratnya sangat kuat dan tak akan mudah putus jika sudah saling terbelit.

Maka keseragaman pencampuran antar serat ini menjadi jelek sehingga twist memiliki kecenderungan untuk terpusat pada daerah yang tipis menyebabkan pada daerah tebal akan kekurangan twist. Ini menyebabkan penyerapan kanji tidah merata pada seluruh bagian benang.

Biasanya pada benang- benang antara nomor 40/s dan 50/s jumlah bulunya sangat banyak dengan rata- rata bulunya panjang- panjang, sehingga ketika terjadi bulu yang saling terkait tersebut, pada titik lemah benang yang twistnya rendah akan putus. Oleh karena itu penutupan bulu merupakan unsure penting pada proses penganjian polyester ramie. Oleh karena itu penting untuk membuat benang tersebut menjadi licin dengan menambahkan after wax , zat pelumas dan menambahkan silicone.






Contoh resep kanji Polyester 65%/ Ramie 35%

Nama kain


Bahan kanji
30’s

80 x 70
30 x  30
40’s

98 x 76
40 x  40





Starch


6.0 – 6.5

5.0 – 5.5




PVA


-

2.5. – 3.0




Acrylic


1.0 – 1.2

0.5 – 0.8




Silicone


0.05 – 0.1

0.05 – 0.1




Oiling agent


0.4 – 0.5

0.5 – 0.6




CMC


0.5




Concent/
Refracto (%)






Take Up%


10 - 12

11 – 13



Size temperature
(º C)

80 - 85

80 - 85




Translated by: Khaeruddin Khasbullah
See: JICA (Japan International Cooperation Agency – Nagoya Training Center: Sizing Technique. 1981.



Under construction…………………………………………………

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar