Jumat, 10 Mei 2013

SEKILAS TENTANG ZAT WARNA




 Sekilas Tentang Zat Warna (Dye Stuff)



1.     Jenis- jenis Zat Warna.

Zat warna sudah dikenal di Timur tengah, India dan Timur jauh (China) sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Umumnya zat warna itu dibuat dari Daun, Kulit, Akar, Bunga, atau dari sari binatang, seperti warna hijau dari Pohon Suji (Dracena Angustifolia) untuk pewarna makanan, pohon Tarum/ Nila (Indigofera) untuk pewarna kain di Indonesia atau warna kuning dari bunga Za’faron/ Saffron di Timur tengah. Fenomena warna itu sebenarnya terjadi karena beberapa zat warna itu hanya dapat menyerap (to absorb) beberapa panjang gelombang warna tertentu, sehingga yang tampak adalah warna dengan panjang gelombang yang dapat terserap oleh suatu zat pewarna tersebut. Sejak dikenalnya ilmu kimia modern, mulailah manusia menemukan zat warna- zat warna sintesa dari bahan- bahan organic ataupun in organic, diantaranya penemuan pewarna MAUVINE oleh William Henry Perkin pada tahun 1856. Sejak itu telah ribuan pewarna sintesa ditemukan dengan warna- warni yang tak terhitung jumlahnya. Namun dari sekian Zat warna itu dapat dipilah- pilah  menjadi menjadi beberapa katagori sebagaimana dibawah ini, yakni:

I.       Pewarna Alami (Natural Plants Dyes)

I.1. Mengandung Zat Lawson: Yakni daun pacar (Henna - Lawsonia inermis L):  Daun pacar kuku mengandung zat warna lawson yang dapat diekstrak sebagai kristal berwarna kuning jingga, digunakan untuk mewarnai wol dan sutera.

1.2. Mengandung Crochin: Yakni Za’faron/ Saffron (Crocus Sativus), yang menimbulkan warna kuning keemasan. Biasa dipakai untuk campuran makanan dan juga berkhasiat obat (anti carcinogen).

I.3. Mengandung Karoten : Seperti Wortel/ Pepaya yang menimbulkan warna jingga – merah. Biasa dipakai untuk pewarna minyak nabati agar kelihatan cantik dan menarik.

I.4. Mengandung Bixin : Seperti biji Bixa Onellana yang menimbulkan warna kuning muda. Biasa digunakan untuk mewarnai mentega dll.

I.5. Mengandung Klorofil : Seperti daun Suji (Dracena Angustifolia), daun pandan yang menimbulkan warna hijau untuk pewarna makanan, sekaligus dengan aroma tertentu.

I.6. Mengandung Antosianin : Seperti bunga Krisant, bunga mawar, kembang sepatu, yang menimbulkan warna merah- oranye.

I.7. Mengandung Kurkumin : Seperti kunyit (curcuma) yang menimbulkan warna kuning, biasa untuk pewarna makanan seperti Gulai atau Kare.

I.8. Mengandung zat Indigo : Seperti Daun Tarum (Sunda) yang menimbulkan warna Indigo, biasa untuk mewarnai bahan tekstil.

Dan lain- lain seperti bunga Telang untuk warna Ungu atau bunga Belimbing untuk menimbulkan warna merah.

II.    Pewarna Sintetik:

1.      Pewarna Asam (Acid Dyes).
2.      Pewarna Basa (Basis Dyes)
3.      Pewarna Langsung  (Direct Dyes)
4.      Pewarna Mordant (Mordant Dyes).
5.      Pewarna Bejana (Vat Dyes).
6.      Pewarna Reaktif (Reactive Dyes).
7.      Pewarna Dispersi (Disperse Dyes).
8.      Pewarna Azo (Azo Dyes/ Naphtol è Hati- hati bersifat Carcinogen/ pencetus kanker)
9.      Pewarna Belerang (Sulphure Dyes).
10.  Dll.

Dibawah ini serba singkat penjelasan masing- masing warna tersebut:

II.1. Pewarna Asam
(Acid dyes).

Disebut Pewarna Asam karena proses pengerjaannya dilakukan dalam suasana asam, baik asam lemah seperti Asam Cuka (vinegar)/ Asam Citrat, maupun asam keras seperti Asam Sulphat (H2 SO4) yang diencerkan dan tentu saja non coustic. Proses pewarnaan dilakukan dalam temperature mendekati titik didih (tinggi).

Zat warna ini sebagian bersifat racun, tapi ada juga yang aman dipakai bahkan ada yang dapat dipakai untuk Pewarna Makanan (Food Grade).

Pada jenis cat asam yang beracun, debu zat pewarna yang beterbangan diudara dan terpapar melalui pernafasan dalam jangka waktu lama dapat mengganggu metabolism tubuh  (metabolism break down) dan dapat merusak hati (liver).

Zat warna ini sangat cocok dipakai untuk mewarnai serat protein seperti: Wool- Angora- Casmhere- Sutera – Silk Late (Sutera sintetik dari susu hewani) – Soy Silk (Sutera dari kedelai) atau synthetic polyamida seperti NYLON, namun harus diperhatikan sifat alami serat hewan yang dapat mengalami degradasi saat terpapar asam, karena itu harus dipilihkan yang menggunakan asam lemah, seperti Asam Cuka, jangan asam keras, atau kalau tak suka baunya yang menyengat, dipilihlah Asam Citrat (C5 H8 O7) sebagai pengganti.

Seperti kita ketahui serat- serat protein bersifat Cationic (Positif ion) sedang zat pewarna asam yang biasanya dijual dalam bentuk SODIUM SALT (garam sodium) bersifat Anionic (Negatif ion), sehingga terjadi gaya Van der Waals Force, yakni “Ion bonding”- yaitu daya tarik menarik antar ion yang berbeda kutub. Inilah yang menyebabkan zat pewarna asam sangat cocok untuk mewarnai serat – serat protein, disamping murah, cepat pengerjaannya, tahan luntur- baik oleh cahaya maupun air (Lightfast dan Washfast).


Saran Resep untuk mewarnai Wool

Untuk 1 kg Wool:

      1.  Empat (4) sendok teh Zat Warna + Air hangat 60ºC menjadi PASTA.
  
2.     Tambahkan garam 1 sendok teh +  1 sendok teh Syntrapol

3.     Tambahkan 4 galon air (+/- 18 liter)

4.     Wool yang sudah dibasahi, dicelupkan dalam larutan obat.

5.     Setelah 10 menit, tambahkan Citric Acid.

6.     Naikkan temperature sampai mendidih. Pertahankan 30 ~ 60 menit.

7.     TURUNKAN temperaturnya.

8.     Cuci.

Jila dibuatkan sebuah pola, demikian bentuknya:





                                                  
                                               100ºC                                           30 ~ 60 menit

                                                             Citric Acid    
      


     Zat warna + Garam + Syntapol    60ºC                                    Cuci.   
      +  Air è Wool masuk +/- 10 menit



Nomor Index dan jenis warna:

Nomor
Warna
Nomor
Warna
Nomor
Warna
600
601
602
603
604
605
606
607
608
609
610
611
612
613
614
615
Ecru
Yellow Sun
Bright Yellow
Gold Yellow
Burn Orange
Pumpkin Pink
Deep Orange
Salmon
Pink
Scarlet
Burgundy
Vermillon
Lilac
Purple
Violet
Perwinkle
616
617
618
619
620
621
622
623
624
625
626
627
628
629
630
Russet (Coklat)
Cherry Red
Fire Red
Crimson (merah tua)
Hot Fuchsi
Sky Blue
Sapphire Blue
Brilliant Blue
Turqoise
Royal Blue
Navy Blue
Kelly Green
Chartreus
Emerald
Spruce


631
632
634
635
636
637
638
639
Teal
Chest Nut
Olive (hijau coklat)
Brown
Gold Ochre
Gun Metal (Black)
Silver Grey
Jet Black

http://ts2.mm.bing.net/th?id=H.4944272852191061&pid=15.1



I.2. Pewarna Basa
(Basis Dye)

Kadang disebut sebagai zat warna Kation karena ia memiliki ion Positif (Cationic). Disebut sebagai pewarna basa karena dahulu dipakai untuk mencelup Wool dalam kondisi basa. Pada saat proses pencelupan, biasanya ditambahkan Acetil Acid pada bejana celupan (dye bath)- untuk membantu penyerapan warna ke serat.

Dasar dari zat warna ini tak larut dalam air, namun dibuat larut dengan cara dikonversi ke garam.
Cationic functional group seperti –NR3+ atau NR2+  bekerja kurang bagus pada serat alam, seperti serat tumbuhan maupun serat binatang kecuali SUTERA, namun bekerja amat bagus pada serat Acrylic/ Modacrylic.

Zat warna Basa adalah Zat Warna yang paling beracun dan berbahaya, karena itu setiap pembelian kita harus meminta MSDS (Material Safety Data Sheet). Penggunaannya harus hati- hati karena ada yang bersifat Carcinogen (pencetus kanker) seperti Rhodamin (Red) G atau menyebabkan alergi kulit seperti Basic Red 46, atau merusak DNA seperti Methylene Blue. Selalu gunakan sarung tangan dan masker. Proses pencelupan harus dilakukan jauh dari rumah lebih- lebih tempat masak. Zat warna ini juga mendapat julukan “Pewarna Segalanya” secara permanent, karena setiap debu obat yang jatuh ke lantai, menempel di tembok, terpapar ke meja bahkan sarung tangan, sendok piring akan menjadi berwarna secara permanent/ susah hilang karena zat warna ini. Maka untuk mencegah debu obat terpapar kemana- mana, usahakan membeli obat ini dalam keadaan PASTA atau CAIR.

Zat warna inilah yang sering disalah gunakan oleh para penjaja kue dan makanan yang tidak bertanggung jawab untuk mewarnai olahan makanan mereka karena warnanya yang menarik dan mudah mencampurkannya kedalam bahan makaan.

Zat warna ini termasuk WASHFAST (tahan cuci) tapi rendah LIGHTFAST nya. Oleh karena itu zat warna ini tidak cocok untuk mewarnai kain Gorden (Curtain). Hati- hati tatkala mewarnai acrylic terhadap perubahan temperature yang tiba- tiba dapat menimbulkan BELANG. Naikkan temperature dari 60 derajat ke 70 derajat secara perlahan. Karena itu ada pepatah: Mewarnai acrylic secara merata dengan zat warna Basa adalah sebuah TANTANGAN. Bagi Pabrikan besar, ada zat tambahan untuk membantu kerataan warna, tapi ini tidak ekonomis untuk skala kecil.

Saran Resep dengan Zat Warna Basa

Ukuran untuk 1 kg bahan kain/ serat:

1.#  2 (dua) sendok teh/ 10 ml Zat Warna Basa
   #  330 ml Cuka (Vinegar) 5%
   #  Air 20 ~ 25 liter.

1.      Buat PASTA èLarutkan Zat Warna dengan AIR MENDIDIH
2.      Tambahkan air dingin, diaduk sampai rata
3.      Tambahkan Acetic Acid / Asam Cuka
4.      Masukkan kain yang SUDAH DIBASAHI.
5.      Setelah 30 – 40 menit, naikkan temperature sampai 96 derajat Celsius. Hati- hati untuk SUTERA temperature tidak boleh lebih dari 85 derajat Celcius.
6.      Panas dihentikan, keringkan dengan Cylinder Dryer, jangan pakai steamer.

Nomor- nomor generic Zat Warna Basa

Dasar Warna
Index
Arah warna
Nama dagang
Basic Yellow





DSB

Basic Orange




Basic Red





Basic Violet




Basic Blue





Basic Green

Basic Brown

2

11

13

21

1

2

21

1

10

14

15


1

14

16

3

9

7

4

13

14



Bright Yellow

Red Shed Yellow

Bright Greenish Yellow

“          “              “   

Dull Yellowish Orange

Yellowish Orange

Bright Yellowish



Tane Fluorescent Red

Bright Fluorescent Red          


Bluish Fluorescent Red

Bluish Violet

Bright Reddish Violet

Red Violet

Bright Greenish Blue

Greenish Blue

Bright Blue


     
Orcozine Yellow Ox

“              Yellow R

“              Yellow L

“              Yellow 7 GLL

“              Orange RS

“              Chrissoydine 4

“              Orange G

“              Rhodamine G
(Pencetus kanker)
“               Rodhamine B
  (mengandung Rhodamine G)
   Orcozine   Brilliant Red

“                Brilliant Red BN

    Orcozine Methyl Violet 2 BP

“              Fuchsine SB

“              Rhodine BL

“              Blue 3 G

“              Blue B

“              Pure Blue GRLA

“              Green V

    Brown Sandocryl Yellow B2LE

“               “                “ BRLN
Catatan: Usahakan, selalu beli Zat Pewarna Basa selalu dalam bentuk pasta/ Liquid

  



I.3. Pewarna Langsung (Direct Dyes/ Substitutive Dyes)

Zat warna ini biasa dipakai untuk mewarnai Cotton- Kertas- Kulit- Wool- Sutera – Nylon. Adapun kilap warnanya lebih redup bila dibanding zat warna reaktif, namun daya tahan terhadap sinar nya ada yang lebih baik, misalnya Direct Blue 86 yang derajat nilai LIGHTFAST nya= 6 (1 = jelek, 8= baik, tahan cahaya). Bandingkan dengan Reactive Orange 4 yang derajat nilainya = 4 atau pada Turqoise Reactive Blue yang derajat nilainya = 5 ~ 6.

Disebut juga sebagai Subtitutive Dyes karena mekanisme pewarnaannya tidak terjadi karena adanya daya tarik antara ion (Van der Waals Force) atau karena fitsasi, namun terjadi karena sebagian molecule warna zat tersebut terperangkap diantara pori- pori serat. Karena itu zat warna ini sering mengalami “BLEEDING” dan migrasi warna secara terus menerus tatkala ada beberapa bagian molecule yang terperangkap, terlepas kembali (nilai WASHFAST nya rendah).

Untuk mengurangi kelemahan ini sering pada proses pencelupan dengan zat ini ditambahkan “Pengikat” yang disebut RETAYNE yang tidak murah, namun celakanya dengan menambahkan RETAYNE maka daya tahan terhadap cahayanya menjadi turun. Mengapa zat warna ini tetap dipilih walaupun daya tahan lunturnya rendah, adalah semata- mata alasan ekonomis, karena harganya yang murah dan pengerjaannya simple/ direct.  Zat warna ini kadang disebut sebagai Hot Water Dye stuff karena proses pengerjaannya dilakukan dengan menggunakan air panas hampir mendidih. Zat warna ini hampir neutral atau sedikit alkaline pada dye bath dengan menambahkan NaCl (Sodium Chloride) atau Na2 SO4 (Sodium Sulphate).

Pada zat warna direct ini selalu mengandung satu atau lebih Anionic Sulfonate group, karena molecul Sulfonate group dapat larut dalam air.
Perlu diketahui, pada umumnya Zat Warna Direct adalah aman bagi kesehatan, namun ada beberapa diantaranya yang berbahan dasar BENZIDINE diketahui bersifat Carcinogen, yakni dapat menimbulkan kanker.

Beberapa contoh Zat Warna Direct yang aman dan tidak aman dipakai:


Warna

Prochem

CI
Zat Warna Direct
Pencetus kanker
(Dilarang)
Leno Yellow
Brilliant Pink
Scarlet
Basic Red
Greenish Blue
Brilliant Blue
Neutral Brown
Jet Balck
Blue Black
C 150
C 309
C 323
C 380
C 482
C 488
C 516
C 622
C 680
Direct Yellow 50
Direct Red 9
“       Red 23
“       Red 80
“       Blue 98
“       Blue 293
“       Brown 116
“       Black 22
“       Black 80
Direct Black 1
Direct Black 4
Direct Black 38
Direct Red 28
Direct Blue 2
Direct Blue 6
Direct Green 6
Direct Brown 2
Direct Brown 95





I.4. Zat Warna Mordan
(Mordent Dyes)

Yakni zat warna natural/ alami yang warnanya ditimbulkan oleh zat pembantu (mordent). Warna- warna yang terjadi tergantung dari keahlian memilih dan menggunakan zat mordant nya. Sedang mordant itu sendiri adalah substansi organic atau in organic yang dikombinasikan dengan zat warnanya dengan maksud untuk mengikat zat warnanya kedalam serat. Ada beberapa jenis substansi mordant, tapi akhir- akhir ini yang terkenal adalah metallic mordant, seperti garam- garam Chromium, Iron, Copper dan Tin.
Substansi mordant, sesuai dengan sifat kimianya ada yang bersifat aman, berbahaya ataupun bersifat racun. Dibawah ini beberapa contoh Zat Mordant yang saat ini dijual dipasaran:

# Aluminium Acetat , mordant untuk serat Cellulose seperti katun dan rayon.
# Calcium Carbonate, untuk kilap dan mempertegas warna.
# Copper Sulphate, untuk tendensi memperdalam warna hijau è bersifat racun.
# Garam Glauber, untuk meratakan warna.
# Oxalic Acid, membantu penyerapan warna tembaga.
# Potassium Alum, mordant untuk serat protein.
# Sodium Hydroxide, untuk reducing agent pada zat warna Indigo.
# Thio Urea Dioxide,                               -  idem –
# Stannons Chloride, untuk efek kilap.
# Kalium Hydroxide, hati- hati alkaline keras.
# Ferro Sulphate, beracun.

Cara pencelupan:

Ada tiga cara pencelupan Zat Warna Mordan, yaitu:

6.3.Mordant dulu baru warna. (Pre mordanting)

·         Siapkan larutan mordant.
·         Serat/ kain dicelup dalam larutan mordant.
·          è Rebus 97 derajat selama 30- 45 menit.
·         Masukkan serat/ kain dalam celupan warna.
·         Cuci, rinso, keringkan.

6.4.Mordant berbareng Zat Warna.

·         Siapkan larutan zat warna + mordant.
·         Celupkan serat/ kain kedalam campuran larutan tersebut.
·         Panaskan sampai mendidih 15 menit.
·         Tambahkan zat mordant untuk mengikat sisa- sisa obat yang belum terikat.
·         Panaskan 30- 45 menit lagi.
·         Cuci, rinso, keringkan.

6.5.Warna dulu baru mordant.

·         Siapkan larutan zat pewarna.
·         Celup serat/ kain dalam larutan obat.
·         Siapkan larutan mordant.
·         Masukkan serat/ kain yang telah diwarna kedalam larutan mordant.
·         Panaskan 30- 45 menit.
·         Cuci, rinso, keringkan.




                                  I.5. Pewarna Bejana
                                     (Vat Dyes)

Zat warna ini termasuk zat warna yang cukup mahal, namun hasil celupannya cukup bagus, dan biasa dipakai untuk mencelup serat/ kain- kain berkwalitas, seperti INDANTHRENE dan FLAVANTHRENE. Zat Warna ini biasa dipakai untuk mencelup dan mewarnai serat- serat alam baik dari tumbuhan (Cellulose) maupun dari serat binatang (Protein), seperti Katun, Rayon,Sutera atau Wool.

Sebenarnya substrate zat warna bejana ini tak larut dalam air, namun dibuat larut dengan cara di REDUKSI dengan menggunakan Sodium Hydroxide (Na OH) + Sodium Hydro sulfide (Na HS) menjadi larutan logam garam alkali. Setelah molekul- molekul zat warna ini berada didalam serat, maka kemudian zat warna ini di oksidasi (menggunakan Perborat atau di angin- anginkan) agar ia kembali tak larut dalam air dan tinggal terikat dalam serat dan warnanya muncul kepermukaan. Menurut Ann Miller dalam bukunya “Ashford Book Of Dyeng” ia menganjurkan:

Untuk setiap 100 gram bahan yang akan dicelup, dibutuhkan:
10 gram Sodium Hydroxide (Na OH)
10 gram Sodium Hydro Sulfida (Na HS)
Sedikit air, dicampur AGAR MEMBENTUK PASTA.

Untuk warna gelap seperti biru dan hitam, dibutuhkan dua kali lipat pereduksi disbanding untuk warna lainnya.

Disamping memiliki warna- warni yang cerah, zat warna ini juga kebanyakan cukup tahan cahaya, sebagaimana daftar dibawah ini:

Nomor Warna                    C. Index                   Lightfastness

VD 01 Yellow                   Vat Yellow    2                    5
VD 02 Orange                     “    Orange   2                   5
VD 03 Red                          “    Red      13                   7
VD 04 Blue                         “    Blue        6                  7 ~ 8
VD 08 Violet                      “     Violet     1                   6


I.6. Zat Warna Reaktif
(Reactive Dyes)

Zat warna Reaktif  adalah pewarna paling permanent diantara semua jenis zat pewarna. Tidak seperti zat pewarna yang lain, Zat Pewarna Reaktif bereaksi dan menyatu dengan serat (COVALENT BOND) DENGAN SERAT Cellulose ATAU serat Protein dan serat Polyamida. Masing- masing molecule serat dan zat warna tersebut bereaksi menjadi satu molecule sehingga zat warna tersebut setelah proses menjadi bagian dari serat itu sendiri. Maka kita tidak perlu kawatir mencampur kain dengan pewarna reaktif baik warna terang ataupun warna gelap seperti warna hitam, bercampur dengan kain putih dalam suatu bak cuci walau dicampur 100 kali pun.
Zat Warna ini bekerja baik untuk mewarnai Cotton, Rayon, Sutera, Linen, Iyocell/ Tencell, Hemp dan seluruh jenis serat alam.

Zat Pewarna ini juga dapat dipakai sebagai ACID DYES pada protein fibre termasuk Wool yang rentan terhadap PH tinggi dengan resep Cotton dan Sutera.

Contoh cara pencelupan Zat Warna Reaktif  untuk serat Cellulose

  • Larutkan UREA pada air, dengan takaran:
Satu sendok the UREA (15 ml) kedalam  satu gelas air (250 ml)

  • Larutkan  4 sendok the Zat Warna Reaktif kedalam Laruten Urea diatas.
Untuk Turqoise MX- G, takarannya adalah 2 x takaran warna muda.
Demikian juga untuk warna- warna tua.

  • Sebelum Kain/ Serat dicelup dalam Zat warna, rendam dulu dalam larutan Soda Abu (Sodium Carbonat (Na2 CO3), bukan Sodium Bicarbonat (Na HCO3!!)., dengan takaran:
Satu gelas Soda Abu kedalam 5 liter air.
Ingat, soda Abu agak bersifat Caustic, jadi cucilah tangan setelah terkena Soda Abu tersebut.

  • Celup Kain/ Serat kedalam Zat Warna Reaktif sampai rata.
  • Angin- anginkan sampai 8 ~ 24 jam agar zat sepenuhnya bereaksi dalam keadaan basah dan tidak ada yang tersisa. Didaerah kering, kain/ serat ditutup plastic atau diberikan HUMECTANT seperti urea agar tetap basah.
  • Cuci, rinso dan dikeringkan.


Index Warna Zat Reaktif.

Warna
Code
Color Index
Yellow






Orange




Red




Magenta
Violet

Blue






Green

Black
MX- 8G
MX- 6G
MX- 4G
MX- GR
MX- 3R
MX- 3RA

MX- G
MX- 2R
MX- GRN
MX- 5 BR

MX- G
Aubine MX-B
MX- 5B
MX- 8B

MX- B
MX- 2R

MX- 7RX
MX- R
FN-G
MX- G
MX- 4RD
MX- 3G

MX- 3G

MX- CWNA
Yellow 86
Yellow 1
Yellow 22
Yellow 7
Orange 86
Orange

Orange 1
Orange 4
Brown 23
Formally Brown 10

Red 5
Red 6
Red 2
Red 11

Reactive Violet #13
“    Violet #14

Blue 161
Blue 4
Blue 204
Blue 163
Navy Blue 24
Formally Blue

Formally Green

300 New Black





I.7. Zat Warna Dispersi
(Dispers Dyes)

Pada awalnya zat warna ini diciptakan untuk mewarnai Cellulose Acetat. Namun kemudian karena sifatnya, ia cocok juga untuk mewarnai Polyseter, Triacetat, Nylon, dan Acrylic Fibre. Zat warna ini larut dalam air, terutama air panas, namun pada prosesnya pewarnaan harus dilakukan dalam temperature mendidih dan akan lebih baik bila dilakukan dibawah tekanan (Pressure Roll). Strucktur molekul dispersnya adalah kecil- Planar dan Non ionic. Mekanisme pewarnaan karena polar functional group –NO2 – CN masuk dan menempel disela- sela mata rantai polymer serat melalui Thermal Agitation (pemanasan) dan Mechanical Action (Pressure) sehingga struktur polymer bahan menjadi kendor dan kurang Crystaline dan dibawah tekanan (pressure), molekul obat berhasil menerobos dan menyalip masuk dan tinggal melekat pada serat (Attached Dye Stuff).

Dengan sedikit teknik, para pemulapun bahkan anak- anak bisa mewarnai bahan/ kain dengan Zat Warna ini dengan sistim Fitsasi sederhana menggunakan panas SETRIKA. Caranya Zat warna ini dilarutkan kedalam air kemudian kapur tulis putih dicelupkan sesuai warna- warna yang diinginkan (Crayon Dispersi juga ada dipasaran). Kita gambar dulu disain yang kita kehendaki di atas kertas- hati- hati tulisan harus ditulis terbalik!!. Kemudian kain polyester diseterika diatas gambar disain tersebut, maka seketika warna- warni disain nya  akan berpindah ke kain (Ingat, zat warna disperse tak akan menempel pada kain katun atau rayon dan serat alam lainnya).
Namun dalam jumlah agak besar, prosesnya menjadi sulit karena pengerjaannya harus dalam panas tinggi dan tekanan tinggi yang disebut sebagai proses FITSASI.

Dibawah ini contoh proses yang disarankan untuk kain Polyester:

  • Timbang obat DISPERS dengan ukuran:

0.5 ~ 1 % dari berat bahan, untuk warna muda
2    ~ 3 %           “               untuk warna sedang.
4    ~ 5 %           “               untuk warna tua.

  • Larutkan obat dalam air panas. Setelah larut tambahkan air sampai volumenya 25 : 1 dibanding berat bahan.
  • Kain yang sudah dibasahi dicelup kedalam larutan obat,
  • Naikkan temperature sampai 70 derajat C (160 derajat F).
  • Tambahkan 4 ~ 10 % Hi- Conc.Polydeveloper (Dispersol) kedalam bejana.
  • Atur PH nya menjadi 6 dengan menggunakan Acetic Acid (CH3 COOH).
  • Naikkan temperature sampai mendidih, terus diaduk selama 30 – 40 menit.
  • Bila derajat warna telah tercapai, angkat.
  • Cuci dengan rinso. Keringkan.



I.8. Zat Warna Naphtol.
(Naphtol/ Azo Dyes)

Serat Cotton, Rayon dan bahan Cellulosic lain termasuk Sutera bisa diwarna dengan zat warna  Naphtol ini. Zat warna Naphtol (atau Napthol atau Naphthol) ini bisa dibilang sebenar- benarnya zat warna dingin karena proses terbaiknya mengunakan air ES. Bandingkan dengan zat warna reaktif dingin Cool Reactive Dye yang ternyata masih membutuhkan kondisi air bersuhu ruangan 21°C ~ 41°C. Kedua zat warna tersebut sangat cocok untuk pewarna BATIK karena keduanya dilakukan dengan proses dingin yang TIDAK AKAN  MERUSAK LILIN BATIK.

Zat warna Naphtol ini sebagiannya bersifat RACUN dan dapat memicu KANKER (Carcinogen), karena itu zat warna ini harus diperlakukan dengan cara- cara professional sehingga tidak menimbulkan masalah kesehatan dikemudian hari, seperti pekerja harus memakai masker menghindari debu obat yang beterbangan dan jangan biarkan kulit bersentuhan langsung dengan zat. Kenyataannya zat warna ini telah dipakai lama secara tradisional di Australia (Handicraft), Indonesia (Batik) dan India (Sari), tanpa adanya laporan insiden yang terjadi. Ini mungkin karena mereka telah turun temurun menggunakan obat ini sehingga tahu bahaya dan cara menghindarinya.

Mekanisme pewarnaannya menggunakan dua bagian obat yang direaksikan, yakni yang bernama adalah Garam Diazo dan yang kedua adalah zat warna Napthol itu sendiri. Kombinasi dan permainan para professional dalam memadu Garam Diazo dan Naphtol ini akan menghasilkan citra warna- warni khas sesuai dengan keahlian mereka masing- masing. Inilah kelebihan dari zat warna Naphtol ini dimana kita bisa mempermainkan paduan Garam Diazo dengan zat warnanya sesuai selera kita.

Dibawah ini table kombinasi antara Garam Diazo dengan zat warnanya untuk bahan baku Cellulosic:


       Zat warna

Garam

Naphtol AS
Naphtol
AS- G
Naphtol
AS- GR
Naphtol
AS- LB
Naphtol
AS- BO

Fast Yellow GC

Red Orange

Pink

Red

Bright

Blue Violet

Fast Scarlet R

Lemon

Bright Yellow

Saffron

Gold

Ochre

Fast Red B

Magenta

Red Violet

Purple

Blue Green

Green

Fast Blue BB

Tan

Chocolate

Red Brown

Purple

Deep Violet

Fast Blue B




Bright  Red

Deep Red

Maroon

Blue

Blue Black

I.9. Zat Warna Belerang
(Sulfur Dye)

Zat warna ini pertama kali ditemukan oleh Raymond Videl dari Perancis pada tahun 1873 dalam bentuk warna hitam, maka sesuai penemunya saat itu zat warna belerang tersebut disebut dengan VIDEL BLACK.

Zat warna ini memiliki affinitas yang tinggi terhadap serat Cellulose, juga baik pada Viscouse maupun Vinylon, daya tahan cucinya tinggi, demikian juga daya tahan cahayanya. Namun zat warna ini sangat tidak tahan terhadap zat CHLORINE  (Hypochloride). Justru masalah ini dimanfaatkan untuk menghilangkan sebagian warna JEANS/ DENIM dengan melakukan WASHING menggunakan larutan Chlorine sehingga kein/ jelana jeans tersebut mejadi ‘Belel” sesuai promosinya: Ditanggung luntur!

Walaupun murah sayangnya Zat warna ini sangat mencemari lingkungan dan juga warna- warnanya cenderung buram dan TIDAK ADA WARNA MERAH. Sekarang sebagai pengganti Sulphida yang beracun, sebagian atau seluruhnya mulai digantikan dengan GLUCOSA untuk mengurangi dampak lingkungan.

Zat warna ini aslinya tidak larut dalam air, namun dibuat larut dengan menambahkan Sodium Sulfida + Panas 80  derajat Celsius + Garam Glauber. Setelah pewarnaan selesai, zat warna harus dikembalikan kedalam bentuknya semula yang tidak larut dengan dilakukan OXYDASI. Caranya adalah diangin- anginkan atau direaksikan dengan Sodium Bichromat atau Hydrogen Peroxid.
Prosesnya secara sederhana dapat digambarkan demikian:

                                             100ºC  = 45 ~ 60 menit



                                          + Sodium Carbonat
Dye + Sodium Sulfid          Sodium Suphate                Cuci
                        40ºC ~ 60 ºC.

   


Contoh Index Warna Zat Warna Belerang.

Warna Dasar

No Index

Arah Warna
Olive Green



Olive

Brown





Green


Grey

Golden

Lemon

Black
7731
715
519

KKN

GRN
FW
GN
GB
GG

BBK
Kahki-N

K-BR

Rorderialik Rt

VG

BR

B
Green (muda)
Green (sedang)
Green (Tua)

Olive

Dark Brown (Muda)



Dark Brown (Tua)

Green
Military Green

Grey

Pink

Green

Black

Black




III. Pewarna Serbaguna (All Purpose Dye- Acid Mixed Direct Dyes)

Zat Warna ini mengandung Acid Dyes dan Direct Dyes.

Dimana Zat Warna Acid tak cocok untuk serat Cellulose tapi sangat cocok untuk serat Protein. Sebaliknya Zat warna Direct tak cocok untuk serat Protein, tapi cocok untuk serat Cellulose. Dengan mengandung dan menggabung dua jenis zat warna ini menjadikan zat warna tersebut serbaguna dan cocok untuk segala jenis serat.


IV. Pewarna Pigment. Khusus pewarna ini sebenarnya adalah bahan pewarna yang hanya melapis diluar, tak bisa menyatu dengan serat sebagaimana zat pewarna yang lainnya.


Adapun penjelasan tentang zat- zat warna tersebut beserta cara penggunaannya baik secara tradisional seperti dilakukan oleh para pembatik di Pekalongan, maupun dengan bantuan mesin, akan diterangkan kemudian.



V. Pewarna Makanan


Salah satu kelas zat warna yang sangat penting yang lain,  yang menggambarkan aneka peran pewarna, sehubungan dengan  penggunaannya, adalah pewarna makanan. Segala macam jenis makanan seperti sirop, kue, atau roti, menjadi  lebih menarik dan memiliki daya jual lebih bila diberikan warna- warni yang menarik dan menimbulkan selera.   Karena zat pewarna makanan digolongkan sebagai aditif makanan, mereka diproduksi dengan standar yang lebih tinggi dan lebih ketat daripada beberapa pewarna industri biasa. Pewarna makanan bisa jenis direct dyes, mordant atau pewarna bejana (vat dyes), dan penggunaannya secara ketat dikontrol oleh undang-undang. Banyak pewarna azo, diantaranya  antrakuinon dan trifenilmetana, senyawa yang digunakan untuk warna seperti hijau dan biru. Beberapa zat  pewarna yang dibuat dari bahan alami/ nabati  juga sering  digunakan, seperti extract daun suji/ klorophyl, dll.

Zat warna makanan ini dalam dunia tekstil juga sering dipakai untuk mewarnai kain/ benang dengan tanda- tanda khusus seperti cut length ( tanda potong), untuk menandai benang lusi dengan anyaman khusus, dsb dengan tujuan agar kain tersebut ketika dicuci warnanya bisa hilang (soluble dye stuff). 

VI. Sejumlah kelas-kelas ZAT WARNA lain yang memiliki penggunaan khusus, termasuk:

Oksidasi basa, terutama untuk pewarna rambut dan bulu

Pewarna Laser,  Lihat, misalnya, rhodamine 6G dan pewarna coumarin

Pewarna kulit, untuk kulit

Pewarna Pendar  Terang  (Fluorecsents Brighteners), untuk serat tekstil dan kertas

Pewarna pelarut/ pelitur, untuk pewarnaan kayu  dan memproduksi lak berwarna, pelarut tinta, mewarnai minyak, mewarnai  lilin dsb.

Pewarna karbena, sebuah metode baru dikembangkan untuk mewarnai beberapa substrat

Pewarna Kontras, disuntikkan untuk pencitraan resonansi magnetik, yang pada dasarnya sama dengan pewarna pakaian, kecuali mereka digabungkan ke zat yang memiliki sifat paramagnetik kuat.

Pewarna Mayhem, yang digunakan dalam pendingin air untuk meningkatkan citra penampilan air, seringkali rebranded RIT dye



VII.   Tip Cepat Memilih Zat Warna

Seperti telah kita pelajari sebelumnya, zat warna yang tersedia sekarang ini begitu luas dan ber- aneka ragam dengan bahan baku zat yang beragam pula yang masing- masing memiliki karakteristik dan sifat- sifat serta afinitas yang berbeda  terhadap setiap jenis serat tekstil yang ada. Maka sangat perlu difahami bahwa tidak semua zat warna tekstil cocok untuk setiap jenis bahan tekstil. Seperti yang telah dijelaskan terdahulu pada bab Bahan Baku Tekstil, bahwa kain tekstil diproduksi dengan menggunakan berbagai jenis serat, baik serat alami tumbuhan, serat alami hewan, serat mineral, serat semi sintetic maupun full synthetic.
Maka seseorang yang akan melakukan pencelupan suatu bahan tekstil, baik secara tradisional maupun dengan cara- cara modern, harus mengetahui terlebih dahulu dari bahan apa suatu produk tekstil dibuat, bagaimana sifat- sifat ion nya (Ingat Van der Waals force) dan zat warna apa yang paling cocok untuk jenis bahan tekstil tersebut, sebagaimana berikut ini:

a.     Untuk bahan serat Cellulose (serat tumbuhan).
Termasuk didalamnya: Cotton – Rayon – Linen – Hemp – Ramie – Lyocel/ Tencel – Bamboo – Serat nanas – Serat pisang, dll :

- Reaktif (reactive dye)
- Pewarna Langsung (Direct -Hot water dye - neutral).
- Cat Bejana (Vat dye – ini agak rumit pengerjaannya)
- Naphtol (---ini agak berbahaya / Carcinogen, dapat menembus pori- pori kulit)
- Zat warna serbaguna (All purpose dyes).

b.    Untuk bahan serat Protein (serat binatang)èCationic.
Termasuk didalamnya: Wool – Angora – Mohair – Cashmere – Sutera – termasuk sutera kedelai.

Khusus sutera, ia dapat juga diwarna dengan zat warna untuk Cellulose walau dengan resep Ph tinggi. Seperti diketahui proses dengan Ph tinggi akan merusak sifat dari serat binatang kecuali pada sutera.

Sedangkan sutera kedelai, walau ia serat buatan, karena dibuat dari protein kedelai, maka ia memiliki sifat- sifat sutera hewani dan harus diperlakukan sama dengan serat- serat hewani tersebut.

Jenis Zat warna yang cocok:

-          Pewarna Asam (Acid Dyes) è Anionic.
-          Cat Bejana (Vat dye)è Quinonic.
-          Reactif (reactive dye)
-          Pewarna Langsung (Direct dye)è neutral.
-          Pewarna alami (Natural dye)/ Pewarna makanan (Food dye), seperti dari daun Suji (hijau),
       bunga Za’faron (kuning), atau daun Jati (Coklat).
-          All purpose dye.
-          One shot dye.

c.      Serat Sintetik (Synthetic Fibre).

1.3.a. Serat Polyester (Polyester Fibre).

      Jenis Zat warna yang cocok:

-          Zat warna Dispersi (Dispers dye).

 1.3.b. Serat Nylon

   Jenis Zat warna yang cocok:

-          Nylon dapat dicelup dengan baik dengan menggunakan semua zat warna asam yang cocok dipakai pada serat hewani.

d.    Spandex.

Ada dua jenis spandex, yakni:

-          Cotton Spandex. Jenis ini bisa diwarna dengan zat warna Asam metal complex.
-          Sedangkan untuk polyester spandex tidak bisa diberi warna.

e.      Serat Acetat

Serat Acetat sangat bagus dan cocok menggunakan zat warna Dispers.

f.      Serat Acrylic.
Serat Acrylic cocok dengan menggunakan :

-          Zat warna Dispersi
-          Zat warna BASA ( Basis dye)è Cationic.

g.     Ingeo.

Ingeo adalah nama dagang dari serat sintetik yang direkayasa dari sintesa Polylactic Acid (PLA) yang bahan dasarnya adalah JAGUNG.

Serat ini cocok diwarnai dengan zat warna yang cocok untuk polyester (Zat warna disperse).

h.    Polypropilene

Serat ini biasa dipakai untuk membuat karung goni plastik untuk gula dan beras. Serat ini harus diwarnai saat masih berujut cairan. Setelah jadi serat, maka ia tak bisa diwarna lagi.


Sumber bacaan:

Ann Miller: Ashford Book Of Dyeing


9 komentar:

  1. Makasih bro.
    sangat bermanfaat.
    jarang-jarang ada postingan materi ini
    izin ngutip ya bro....

    BalasHapus
  2. Minta ijin kutip untuk jenis zat pewarna alami dan reactive dye nya karena saya memerlukan untuk pencelupan kain linen. terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  3. saya mau bertanya pa,, kalau misalkan mau merubah warna yang tadinya warna biru menjadi hitam apakah bisa? pengaruh tidak dari kualitas warna yang akan di tuju nya pak.. terimakasih pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Warna muda bisa dirubah ke warna tua (hitam)- tidak sebaliknya.

      Hapus
    2. Warna muda bisa dirubah ke warna tua (hitam), tidak sebaliknya.

      Hapus
  4. Thanks for sharing.. Butuh pewarna batik berkualitas dengan harga murah? Anda bisa mendapatkannya di Fitinline..

    BalasHapus
  5. Mau tanya dan masukannya, biasa nya untuk celup benang TR/TC dengan cara 2 Tahap proses celup Disperse dahulu baru Reaktif, nah kalo seandaikan Prosesnya Reaktif dahulu dilanjut Disperse apa akibatnya dan kenapa harus Diperse-Reaktif atau Reaktif-Dispers,,,hub 085320841017

    BalasHapus