Kamis, 07 Februari 2013

SIZING FORMULA


 Resep Kanji

                                                                                 H.Khaeruddin Khasbullah




Agar penganjian dapat dilakukan dengan sebaik- baiknya dan seefektif mungkin, kita harus memperhatikan dengan seksama beberapa hal yang berkenaan dengan pembuatan larutan kanji.
Dewasa ini hanya sedikit yang membuat resep dengan obat kanji hanya satu macam. Biasanya resep tersebut merupakan campuran 2 macam obat atau lebih obat kanji, ditambah sizing wax  dan bahan aditif lainnya. Karena menggunakan bermacam- macam bahan maka membuat larutan kanji yang stabil dan berkualitas tetap merupakan masalah yang sulit. Untuk mebuat larutan kanji yang berkualitas tetap dan mendapatkan hasil penganjian yang merata, maka pada waktu membuat larutan kanji kita perlu memperhatikan hal- hal berikut ini:
1.       Menggunakan Bahan Kanji Yang Berkualitas Sama.

Untuk mendapatkan kanji dengan larutan yang tetap, maka kita harus menggunakan obat kanji yang memilki kandungan bahan dan sifat/ karakteristik (grade) yang sama. Hati- hati tiap bahan yang berbeda memiliki sifat/karakteristik yang berbeda. Sifat bahan- bahan alam/natural  seperti starch dipengaruhi oleh tanah tempat tumbuhnya. Bahan kanji atau bahan aditif sintetis lainnya memiliki sifat yang sering berbeda tergantung dari pabrik yang membuatnya. Oleh karena itu sebelum kita menggunakan bahan- bahan tersebut kita perlu meneliti dulu sifat- sifatnya. Selain itu bahan kanji yang disimpan terlalu lama akan mengalami perubahan baik pada kadar air maupun sifat- sifatnya. Oleh karena itu ada baiknya kita menghindari penyimpanan yang terlalu lama.

2.       Komposisi Resep Harus Selalu Tetap.

Untuk setiap jenis tenunan dan setiap jenis bahan kanji tertentu pasti ada komposisi resep yang paling ideal. Hanya saja bukanlah perkara yang mudah untuk menemukan komposisi yang ideal tersebut, yakni perlu banyak sekali percobaan dan pengamatan. Oleh karena itu, begitu kita menemukan suatu komposisi yang ideal kita harus tetap mempertahankannya. Bahan kanji kita timbang dengan teliti sesuai prosentasi resep. Kita tidak boleh menimbang secara serampangan dan sembarangan mengganti formulasi resep tanpa alas an yang jelas. Alat timbang juga harus sering diperiksa dan dikalibrasi secara periodik.

Jika masih ada sisa larutan kanji di dalam cooking tank, kita kadang- kadang diperbolehkan untuk langsung menambahkan air atau obat kanji keatasnya, atau memasukkan sizing wax dalam jumlah tertentu kedalam size box. Akan tetapi hal harus dilakukan dengan penuh kecermatan oleh ahlinya.

Yang dimaksud dengan prosentasi/ konsentrasi/ komposisi resep adalah jumlah prosentasi penggunaan obat- obat kanji, sizing wax dan bahan aditif lainnya terhadap total larutan kanji. Sebelum kita memutuskan memakai suatu resep, kita harus paham bahwa prosentasi dan jenis obat- obatan dan zat aditif lainnya, adalah sangat berpengaruh besar terhadap kualitas campuran obat kanji tersebut. Maka para ahli tidak segan- segan membawa hasil percobaan sebuah formula kanji baru (atau lama untuk check rutine)  ke sebuah laboratorium, sebelum secara resmi digunakan sebagai formula baku.

Perlu diketahui bahwa tiap- tiap jenis obat kanji dan sizing wax memilki active/ solid content/ kandungan bahan aktiv yang berbeda- beda tergantung dari besarnya kadar air. Karena itu kita tidak boleh salah dalam menentukan berat timbangan bahan yang akan kita pakai.

3.       Larutan Kanji Yang Stabil.
Karena larutan kanji merupakan campuran beberapa macam bahan, maka sulit untuk membuat larutan kanji yang stabil dengan kualitas tetap akibat perbedaan kondisi reaksi kimiawi antar bahan, perbedaan pengadukan , suhu dan jangka waktu pemasakan. Hindari pemakaian obat kanji yang timbul metallic soap akibat reaksi kimia atau obat kanji yang mengalami pemisahan dengan sizing wax akibat menurunnya kestabilan emulsifier (zat peng- emulsi/ zat yang dapat melarutkan wax pada air). Sedapat mungkin kita mencari cara dan urut- urutan pemasakan kanji tanpa menimbulkan reaksi kimia. Pada waktu memasak kanji kita juga perlu berhati- hati karena viscositas larutan akan berubah- ubah akibar perbedaan suhu pemanasan dan jangka waktu pemasakan.



I.                    RESEP KANJI UNTUK BENANG SPUN


Dengan munculnya bermacam- macam jenis serat sintetis maka bermunculan juga bermacam- macam jenis benang spun yang dibuat dengan mencampur / menggabung serat sintetis tersebut dengan serat alam. Pada umumnya yang disebut dengan BLENDED YARN kebanyakan adalah campuran antara 2 macam serat, yaitu antara serat sintetis dengan serat alam atau dengan regenated fibre. Ada juga yang merupakan campuran 3 macam serat yakni antara 2 macam serat sintetis dan satu serat alam atau regenerated fibre. Bahkan blended yarn yang merupakan campuran 2 macam serat pun jenisnya masih bias dibuat bermacam- macam dengan mengatur besar kecilnya komposisi campuran.
Pemilihan nomor denier dan panjang potongan serat sintetis itu dapat dibuat secara tak terbatas. Yang biasa dikanji adalah jenis benang yang menggunakan serat kecil dari 1, 2 d hingga serat besar kira- kira 6 d.
Obat kanji lebih sulit melekat pada serat sintetis dibandingkan pada serat alam maupun regenerated fibre sehingga penganjian pun lebih sulit dilakukan pada serat sintetis. Sejak kemunculan serat sintetis seperti telah disebutkan di muka, proses penganjian menjadi semakin rumit. Dalam hal pembuatan resep kanji pun, kita harus memperhatikan perbedaan kondisi benang- benang tersebut diatas.

Hal- hal mendasar yang perlu menjadi perhatian, yang berkenaan dengan resep kanji yang akan  dibuat, berdasarkan kondisi- kondisi benang seperti tersebut dibawah ini:

(1). Resep kanji untuk benang katun 100% adalah PVA jenis saponifikasi sempurna dengan derajat polymer 1700 (sebanyak 35% dan starch (corn starch = 65%).

(2).   Resep untuk blended yarn serat sintetis + serat katun (umumnya Polyester 65% katun 35%) adalah PVA saponifikasi sempurna dengan derajat polymerisasi 1700 = 65% dan starch = 35%.

Untuk serat sintetis digunakan lebih banyak PVA yang memiliki daya adhesi yang kuat. Starch digunakan sebagai penambah viscositas yang berfungsi untuk menidurkan bulu- bulu. Karena sifat tenun blended yarn lebih jelek dibanding dengan benang katun 100%, maka meskipun diproses dengan kondisi yang sama dan dengan konsentrasi resep yang sama tetapi size pick up untuk blended yarn harus dibuat lebih banyak.

(3). Benang yang menggunakan fibre kecil (biasanya dipintal dengan cotton spinning system) lebih mudah dikanji. Semakin besar ukuran fibre yang digunakan akan semakin sulit untuk menidurkan bulu- bulunya sehingga proses penganjian akan semakin sulit pula. (Benang yang menggunakan fibre lebih dari 3 denier biasanya dipintal dengan combing spinning system dan dinyatakan dengan ukuran metric count).
(4). Diantara serat sintetis yang paling sulit untuk dilekati oleh obat kanji adalah polypropylene kemudian polyester dan yang relative lebih mudah dilekati obat- obat kanji adalah nylon.
(5). Jika benang yang dikanji adalah benang yang menggunakan serat dengan denier sama bernomor sama dan memiliki komposisi campuran serat yang sama, maka benang yang memiliki twist yang lebih banyak sebaiknya dibuat dengan size pick up lebih rendah/ sedikit.
(6). Benang double dapat dikanji dengan size pick up rendah/ sedikit. Benang bernomor besar kurang dari 40/2s dapat ditenun tanpa dikanji (kecuali untuk mesin air jet, sebaiknya tetap dikanji tipis- tipis untuk mencegah stop pakan karena bulu), sementara untuk benang double bernomor kecil dibawah 40/2s dikanji dulu dengan larutan kanji encer/ konsentrasi rendah.

I.1 Benang Katun

Beberapa tahun lalu ketika rpm mesin dibawah 150, untuk penganjian benang katun hanya menggunakan starch, tetapi akhir- akhir ini karena tuntutan kecepatan dan mutu kain, mulai digunakan campuran starch dengan kanji sintetis terutama PVA. Sekarang prosentasi resep yang banyak digunakan adalah PVA 30% ~ 35% dan starch 65% ~ 70%. Dimasa mendatang, dimana rpm mesin tenun sudah mencapai diatas 1000, kemungkinan prosentase PVA akan semakin bertambah.

Prosentasi pemakaian tepung pun mengalami pergeseran, dari semula tepung tapioca, tepung gandum/wheat flour berubah menjadi lebih mengarah ke pemakaian tepung jagung (corn starch). Apalagi sekarang ini persyaratan kondisi lingkungan kerja menjadi lebih ketat. Untuk memperbaiki kondisi lingkungan ruang tenun, maka proses weaving dilakukan dalam kondisi humiditas rendah. Untuk memenuhi kondisi itu prosentasi penggunaan PVA pun ditingkatkan. Karena formula obat kanji perlu disesuaikan menurut jenis kain yang akan ditenun, maka kita harus membuat larutan kanji dengan konsentrasi yang dirasa berdasar percobaan paling tepat untuk suatu jenis tenunan.

Pada umumnya untuk jenis tenunan dengan anyaman renggang dan menggunakan benang dengan nomor besar, maka cocoknya dikanji dengan konsentrasi larutan yang rendah. Semakin kecil nomor benang yang digunakan dan semakin rapat anyamannya, maka konsentrasi larutan kanji pun harus dibuat semakin tinggi dan dengan size pick up yang semakin tinggi pula.

Benang single sebaiknya dikanji dengan konsentrasi yang lebih tinggi dan SPU (size pick up) yang lebih tinggi pula. Sementara untuk benang double digunakan larutan kanji dengan konsentrasi lebih rendah dan SPU yang lebih rendah pula.

Diantara jenis anyaman tenun, anyaman plain paling sulit ditenun sedangkan jenis anyaman yang floatnya makin panjang seperti satin lebih mudah. Untuk anyaman plain harus digunakan yang berkonsentrasi tinggi dan dengan SPU yang tinggi pula. Jadi, jumlah persilangan anyaman dalam 1 inch² menentukan sulit mudahnya proses tenunnya.

Untuk anyaman poplin benang single perlu dilakukan penganjian yang tebal,pemakaian bahan pelembut dan bahan pelicin (wax) diperbanyak, serta obat kanji yang digunakan tidak membuat benang menjadi kaku. Satin dan twill yang memiliki berat per meter² nya berat tidak boleh dikanji hingga terlalu kaku dan permukaan benangnya menjadi kasar. Untuk itu pada resep kanji ditambahkan softener dan lubricant secukupnya agar lapisan film/ kanji menjadi lembut sampai batas yang diperbolehkan.

Dibandingkan dengan carded yarn, combed yarn lebih membutuhkan obat kanji yang memiliki sifat penetrasi dan sifat adhesi yang lebih baik.
Dewasa ini di pasaran muncul benang katun yang dipintal dengan AIR JET SPINNING MACHINE yang menghasilkan benang yang memiliki kekhasan sifat tersendiri dan diperkirakan di masa mendatang jumlah produksinya akan meningkat pesat. Air Spinning Machine ini sekarang sudah dapat membuat benang dengan nomor 40s. Hanya saja dari segi kualitas maupun dari segi ekonomis, proses ini lebih menguntungkan jika memproduksi benang besar seperti no 20s. Oleh karena itu dewasa ini hamper setiap perusahaan spinning menfokuskan diri dalam produksi benang nomor 20s.

Kemampuan obat kanji untuk melekat pada benang hasil Air Spinning Machine ini dibandingkan dengan kemampuannya pada benang hasil Ring Spinning Machine cenderung sedikit berbeda. Oleh karena itu, pada waktu menentukan resep obat kanji kita harus memperhatikan dengan cermat tentang karakteristik adhesivitas/ pelekatan obat kanji pada benang- benang tersebut.
Hal
Resep kanji
Jenis benang
1
2
3
4
Size Pick Up%
Air Spin Yarn

Ring Spin Yarn
9.1

8.1
10.4

9.2
11.2

10.0
12.0

10.5
Viscositas kanji (Cp)
470
480
490
500
Skema Kemampuan Melekat Obat Kanji Pada Air Spinning & Ring Spinning

Catatan:

Resep kanji no 1,2,3,4 adalah sama dengan contoh resep benang katun no 31,32,33,34 yang tercantum pada lembar mendatang.
Hasil perbandingan Air Spinning Yarn denga Ring Spinning Yarn adalah seperti yang tercantum pada table 7.1 maupun 7.2. Jika disimpulkan maka hasil proses Air Spinning sebagai berikut:
(1)    Derajat simetrinya bagus karena bulu dan bentuk benang yang tidak rata hanya sedikit (Yarn evenness nya tinggi).
(2)    Derajat bulkiness nya tinggi. Cepat dan banyak menyerap obat kanji, sehingga obat kanji dapat berpenetrasi hingga ke bagian dalam benang.
(3)    Meskipun strength sedikit lebih rendah tapi bundling powernya (kekuatan menahan gesekan) lebih unggul.
(4)    Jumlah twistnya sedikit lebih banyak.

Tabel 7.2  Perbandingan karakteristik Air Spinning Yarn dengan Ring Spinning Yarn.
                               Jenis Benang
Item
Ring Spinning Yarn
Air Spinning Yarn
Moisture Content (%)
Lea Strength (kg)
Lea Elongation (%)
Single Yarn Strength (g)
Single Yarn Elongation (%)
Uster (U%)
Bundling Power (Times)
Twist (T/inch)
6.85
45.56
6.74
341.49
6.66
15.84
148
19.01
6.61
41.39
7.51
315.80
7.92
12.01
1150
21.64

 Jika kita perhatikan, hasil test diatas menunjukkan bahwa Air Spinning Yarn dapat dikanji dengan menggunakan konsentrasi resep yang lebih encer/ konsentrasi rendah dengan kemampuan tenun tidak berbeda dari Ring Spinning Yarn yang dikanji dengan konsentrasi normal.

Berikut ini akan ditunjukkan contoh- contoh resep kanji untuk tiap- tiap jenis tenunan benang katun, yaitu cntoh resep dengan komponen utama starch dan contoh resep dengan komponen utama PVA sebagai usaha untuk mengimbangi pengurangan humiditas di ruang tenun. Diberikan pula beberapa macam contoh resep untuk beberapa macam kondisi. Pada umumnya semakin banyak prosentase penggunaan obat kanji sintetis, maka konsentrasi resep dapat diturunkan.
Selain itu, anti jamur anti tungau, anti lengau, dll,  dapat pula ditambahkan obat untuk maksud tersebut (seperti : Neoshintol C, Resista, dll) tergantung dari kondisi saat itu.

Untuk Resep Katun, PVA yang dipakai biasanya adalah Fully Hydrolized Type atau intermedially PVA seperti PVA CST dari Kuraray atau C-500 dari Gohsenol atau JM 17 dari Japan Poval untuk menghindari clogged pada system pipa transfer. Tapi kadang- kadang juga memakai PVA Partially Hydrolized medium untuk simplifikasi penyimpanan obat.

1.       Katun 20s Kanakin (Shirtings Cambridge)
Corn Starch
PVA intermedially
Acrylic 25%
Wax
Anti Fungi
Total
4.5%
2.5%
0.5%
0.4%
0.02%
7.92%

2.       Katun 30s Saifu (fine fabrics)
Corn Starch
Acrylic 25%
Wax
Total
7.0%
0.5%
0.5%
8.0%



3.       Katun 20s Katsuragi (drill)
Corn Starch
PVA medium
Acrylic 25%
Wax
Total
7.0%
1.5%
1.0%
0.5%
10.0%

4.       Katun 24s Saifu (fine fabrics)
Corn Starch
PVA intermedially
Acrylic 25%
Wax
Anti Fungi
Total
1.5%
2.5%
0.1%
0.2%
0.05%
4.35%

5.       Katun 30s Kanakin (shirtings cambrics)
Corn Starch
PVA intermedially
Acrylic 25%
Wax
Anti Fungi
Total
6.0%
2.5%
0.5%
0.5%
0.02%
9.52%

6.       Katun 30s Aya (Twill)
Corn Starch
PVA intermedially
Wax
Total
2.0%
3.0%
0.2%
5.2%

7.       Katun 30s Popline
Corn Starch
PVA medium
Acrylic 25%
Wax
Total
8.0%
1.0%
0.3%
0.5%
9.8%


8.       Katun 40s Popline
Corn Starch
PVA medium
Acrylic 25%
Wax
Anti fungi
Total
8.5%
3.5%
0.6%
0.6%
0.03
13.23%

9.       Katun 40s Popline
Corn Starch
PVA medium
Acrylic 25%
Wax
Total
8.0%
3.0%
1.0%
0.4%
12.4 %

10.    Katun 40s Popline
Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Anti Fungi
Total
3.0%
5.5%
0.5%
0.5%
0.02%
9.52 %

11.   Katun 40s Popline
Corn Starch
PVA medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Total
3.0%
5.0%
0.5%
0.4%
8.9 %

12.   Katun 40s Popline
Corn Starch
PVA  A-300 (PVA modifikasi)
Wax
Anti Fungi
Total
1.5%
6.0%
0.2%
0.04%
7.74 %



13.   Katun 60s High Density Plain
Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Anti Fungi
Total
4.0%
6.5%
0.6%
1.2%
0.02%
12.32%

14.   Katun 80s High Density Plain
Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Anti Fungi
Total
5.0%
8.0%
1.0%
0.8%
0.02%
14.82%

15.   Katun 80s Lawn
Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Anti Fungi
Total
5.5%
3.0%
0.4%
0.9%
0.01%
9.81%

16.   Katun 120/2 Broad
Corn Starch
PVA  medium
Acrylic 25%
Anti Fungi
Total
4.5%
1.5%
0.6%
0.03%
6.63%

17.   Katun 20s Saifu AIR SPINNING YARN
Corn Starch
Wax
Total
7.0%
1.0%
8.0%

18.   Katun 20s Kanakin (Shirting) AIR SPINNING YARN
Corn Starch
PVA medium
Wax
Total
7.0%
1.0%
0.4
8.4%

19.   Katun 20s Twill AIR SPINNING YARN
Corn Starch
PVA medium
Wax
Total
6.4%
2.0%
0.4
8.8%

20.   Karun 30s Popline AIR SPINNING YARN
Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Total
6.4%
2.0%
0.4%
0.4%
9.2%


Untuk anyaman satyn atau twill, memakai resep yang sama seperti contoh dengan penambahan air





I.2. Synthetics Fibre – Cotton Blended Yarn



Biasanya PVA yang dipakai adalah Partially Hydrolized, kadang campuran antara medium viscosity dengan Low Viscosity
1.       Polyester/ Katun (T/C) 45s Popline

Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Anti Fungi
Total
4.0%
6.0%
0.5%
0.5%
0.1%
11.1%



2.       Polyester/ Katun (T/C) 45s Popline
Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Total
3.5%
5.0%
1.0%
0.4%
9.9%

3.       T/C 45s Popline
Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Anti Fungi
Total
4.5%
3.0%
0.2%
0.4%
0.02%
8.12%

4.       T/C 45s Popline
Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Anti Fungi
Total
4.5%
7.0%
0.8%
0.5%
0.01%
12.81%

5.       T/C 45s Popline
Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Total
3.5%
5.0%
1.0%
0.4%
9.9%

6.       T/C 45s Popline
Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Anti Fungi
Total
5.5%
3.5%
0.3%
0.5%
0.04%
9.84%


7.       T/C 30s  Shirting fabrics
Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Total
3.5%
5.5%
1.0%
0.3%
10.3%

8.       T/C 30s  Twill
Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Total
7.0%
3.0%
1.0%
0.5%
11.5%


9.       T/C 35s Twill
Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Anti fungi
Total
11.5%
2.5%
0.5%
0.06%
14.56%

10.   T/C 35s Shirting
Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Total
4.0%
6.0%
0.5%
0.5%
11.0%

11.   T/C 45s Satin

Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Anti fungi
Total
5.5%
8.5%
1.0%
0.9%
0.06%
15.96%


 12.   T/C 65s Satin
Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Total
3.0%
6.0%
1.0%
0.5%
14.56%

13.   T/C 65s Lawn
Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Anti fungi
Total
7.0%
4.0%
1.5%
0.8%
0.003%
12.83%

14.   T/C 72s Lawn
Corn Starch
PVA  medium Partially
Acrylic 25%
Wax
Total
3.0%
5.5%
3.0%
1.0%
12.5%



I.3. Synthetic Fiber- Rayon Blended Yarn

Serat sintetis yang dimaksud disini kebanyakan adalah Polyester. Standard prosentase campuran benang adalah sama seperti campuran dengan katun yaitu Polyester 65% dan Rayon 35%. Berikut ini adalah perbandingan antara kondisi sizing polyester rayon dengan kondisi untuk polyester katun blended yarn:

a.       Meskipun obat kanji lebih mudah melekat ke rayon daripada ke katun, tetapi karena prosentasi rayon hanya 35%, maka resep dibuat mendekati sama dengan resep T/C.

b.      Tetapi karena rayon merupakan serat semi kimia (chemical compound yarn), maka kelebihan benang rayon adalah ukuran besarnya denier dan panjang serat (fibre length) dapat dibuat bermacam- macam. Karenanya kita bisa lebih bebas dalam mengatur besaran “grip” benang. Serat polyester yang digunakan untuk campuran polyester- katun adalah serat dengan ukuran 1.5 – 2.5 denier dan panjang potongan 35- 38 mm. Sedangkan untuk T/R baik serat polyester maupun serat rayon kebanyakan menggunakan serat yang besar dan panjang, yaitu yang memiliki denier 2- 2.5 dan panjang potongan 51- 57mm. Dan meskipun jumlahnya sedikit, ada juga yang menggunakan serat 3-6 denier untuk menciptakan pegangan yang khusus. Oleh karena itu dibanding benang T/C, twist benang T/R lebih sedikit, deniernya lebih besar sehingga lebih sulit ditidurkan, Sehingga jika penganjiannya kurang tepat akan muncul “pilling” pada pernukaan kain.

Maka resep kanji yang dibuat harus disesuaikan dan ditentukan berdasarkan nomor denier dan panjang potongan serat dari benang. Untuk benang ber denier besar (yaitu denier besar dan potongan serat panjang- panjang), konsentrasi dan viscositas perlu dinaikkan dan Size Pick Up dibuat lebih tinggi agar bulu- bulu dapat ditidurkan, hal ini sangat penting, lebih- lebih pada proses tenun menggunakan air jet loom.

Maka pada umumnya pada proses penganjian T/R, pemanasan size box dibuat lebih rendah di banding pada proses T/C agar viscositasnya lebih tinggi (walaupun resepnya dibuat sama).
Catatan: Makin rendah temperature, viscositas larutan kanji makin tinggi.

c.       Benang T/R juga ada yang menggunakan serat 1.5 denier. Ada juga sebagai pengganti rayon digunakan serat Polynosic. Jika menggunakan serat polynosic, maka kebanyakan menggunakan serat kecil yakni 1.2 ~ 1.5 denier dan nomor benang benang polyester- polynosic yang umum adalah Ne 40 ~ 65s. Resep kanji untuk benang campuran ini adalah SAMA seperti resep pada benang polyester- katun.

Contoh- contoh resep kanji:

1.       T/R 30s Twill
Corn starch
PVA medium partially hydrolyzed
Acrylic 25%
Wax
2.5%
7.5%
0.5%
0.5%
Total
11.0%

2.       T/R 34s Popline
Corn starch
PVA medium partially hydrolyzed
Acrylic 25%
Wax
7.0%
3.5%
0.5%
0.5%
Total
11.5%
    
3.       T/R 40s Poplin
Corn starch
PVA medium partially hydrolyzed
Acrylic 25%
Wax
6.0%
2.5%
1.0%
0.8%
Total
10.3%
4.       T/R  40/2s Broad
PVA medium partially hydrolyzed
Acrylic 25%
Wax
2.0%
0.3%
0.4%
Total
2.7%

5.       T/R  44/2s Kashidos
PVA medium partially hydrolyzed
Wax
2.5%
1.2%
Total
3.7%

6.       T/R 60/2s Broad
Corn starch
PVA medium partially hydrolyzed
Wax
1.0%
2.5%
0.4%
Total
3.9%

7.       T/R 66/2s Kashimiya
PVA medium partially hydrolyzed
Acrylic 25%

2.0%
6.0%
Total
8.0%

8.       Polyester – Polynosic 60s Lawn
Corn starch
PVA medium partially hydrolyzed
Wax
5.0%
5.7%
0.3%
Total
11.0%

9.       Polyester – Polynosic 45s Popline
Corn starch
PVA medium partially hydrolyzed
Acrylic 25%
Wax
3.0%
6.5%
0.3%
0.5%
Total
10.3%



I.4. Synthetic Fiber – Ramie/ Linen Blended Yarn

Yang dimaksud dengan serat sintetis disini pun kebanyakan adalah polyester. Sebagian kecil ada yang menggunakan acrylic. Ada dua jenis serat ini, yakni: Rami dan Linen. Karena keduanya merupakan serat yang besar kaku dan keras, maka biasanya bulu- bulunya sulit di tidurkan.  Oleh karena itu, benang ini sedikit sekali di gunakan dalam proses pertenunan berkerapatan tinggi. Penentuan resep kanji dititik beratkan pada upaya untuk menidurkan bulu, sehingga benang perlu dikanji dengan viscositas larutan dan konsentrasi resep dibuat tinggi.
Contoh- contoh resep:

1.       Mixed Polyester- Rami/ Linen 40s Shirting fabrics
Corn starch
PVA medium partially hydrolyzed
Acrylic 25%
Wax
3.0%
5.0%
1.5%
0.7%
Total
10.2%

1.       Mixed Polyester- Rami/ Linen 34s Shirting fabrics
Corn starch
PVA medium partially hydrolyzed
Acrylic 25%
Wax
2.0%
4.5%
2.0%
0.4%
Total
8.9%



I.5.  Synthetic Fiber – Wool Blended Yarn atau Wool Spun 100%

Dulu, kecuali untuk tenunan khusus seperti muslin, semua tenunan wool dari combed yarn dibuat dari combed yarn double dan tanpa dikanji. Tetapi dewasa ini dunia tenun wool telah muncul high speed weaving untuk kain wool, seperti mesin tenun Rapier, dll. Karena kesulitan ketika menganji benang wool sehingga banyak terjadi lusi putus sehingga mengakibatkan effisiensi rendah, maka ada kecenderungan untuk menenun wool dengan benang lusi double, karena sejak dulu benang wool memiliki denier besar (4~7 denier) dan twist yang rendah sehingga bulu- bulunya sulit ditidurkan. Selain itu karena rambut hewan itu anti air sehingga penetrasi obat kanji menjadi sulit. Maka benang jenis ini harus dikanji dengan obat dengan viscositas tinggi dan SPU yang tinggi pula. Jika benangnya double, maka tetap diperlukan penganjian untuk meningkatkan effisiensi walau dengan konsentrasi dan SPU yang rendah.
Dewasa ini ada tuntutan agar menggunakan benang lusi dan pakan wool single sebagai upaya untuk menekan beaya operasional tenun kain wool. Jika menggunakan benang single, maka proses penganjian betul- betul diperlukan. Agar bulu- bulu tebalnya bias tertidur maka seperti telah dikemukakan diatas, harus dikanji dengan larutan yang konsentrasi dan kekentalannya tinggi. Meskipun perlakuan terhadap benang polyester blended yarn tidak dibenadakan dengan wool 100%, namun karena sifat anti air polyester/ wool blended yarn lebih rendah, maka dibandingkan dengan wool 100% penetrasi obat kanji lebih baik sehingga polyester/ wool yarn menjadi lebih mudah dikanji.
Contoh- contoh resep
1.       Polyester/ wool blended yarn 52/1 Mosline

Corn starch
PVA medium partially hydrolyzed
Acrylic 25%
Wax
3.5%
6.0%
0.5%
0.5%
Total
10.5%

2.       Wool 52/1 Sheet

Corn starch
PVA medium partially hydrolyzed
Wax
4.0%
6.0%
0.7%
Total
10.7%

3.       Wool 60/2 Sheet

1.        
Corn starch
PVA medium partially hydrolyzed
Acrylic 25%
Wax
2.5%
3.5%
0.5%
0.4%
Total
6.4%

I.6. Benang Full Synthetics (Synthetic 100%)

Tenunan dari benang serat sintetis 100% memiliki kelemahan yaitu pada waktu diproses gampang keluar bulu karena mengandung electro statis dan bulu- bulu itu sulit sekali dihilangkan. Selain itu juga gampang keluar “pilling”, yakni nep yang terjadi karena bulu- bulu menggumpal. Dahulu, selain untuk bahan industry benang ini hamper tidak pernah untuk bahan pakaian. Namun saat ini rekayasa serat ini begitu maju sehingga hamper sifat- sifat buruknya sudah dapat diatasi. Misalnya sekarang ini serat polyester yang tidak menyerap air dengan cepat sudah dapat direkayasa sehingga kecepatan absorb terhadap air bias lebih baik dan lebih merata dibanding kain katun (Breeze Yarn). Begitu juga kemajuan pada proses Dying Finishing yang telah dapat memproses kain polyester sehingga bisa sehalus dan seindah sutera.
Hal yang harus diperhatikan ketika menenun benang ini adalah besar dan panjang serat yang dipakai. Seperti telah diterangkan dimuka, standard denier dan panjang potongan serat sintetic untuk synthetic / cotton blended yarn adalah 1.2 – 1.5 d, 35~38 mm. Standard untuk staple blended yarn adalah 2~2.5d, 51~57 mm. Sedangkan untuk synthetic/ wool blended yarn adalah 3~6d, 76~105 mm.
Karena besarnya denier dan panjang potongan serat dari benang staple sintetis 100% dapat dibuat beraneka macam dengan bebas, maka sebelum kita menggunakan nya kita harus memeriksa dulu specifikasinya. Biasanya bila menggunakan denier kecil dan potongan seratnya pendek, maka bulu- bulunya akan lebih mudah ditidurkan. Senakin besar denier nya dan semakin panjang potongan seratnya maka akan semakin sulit untuk menidurkan bulu- bulunya, sehingga proses sizingnya menjadi sulit dan sifat tenun dan kualitas hasilnya menjadi lebih jelek. Karena timbulnya Nep/ Pilling.
Jika benang staple sintetis 100% dibuat dengan method RING SPINNING, maka secara garis besar memiliki standard tertentu dalam menentukan besarnya denier dan panjang potongan serat yang akan digunakan. Jika di spinning menggunakan cotton spinning machine, maka standardnya adalah: 2~1.5d, 35~38 mm. Jika menggunakan rayon spinning machine maka standardnya adalah 2~2.5d, 51~57 mm, dan jika menggunakan spinning wool maka standardnya adalah 3~6d, 76~105mm.
Maka resep untuk benang staple fiber sintetis 100% dibuat dengan memperhatikan kondisi- kondisi seperti tersebut diatas. Maka untuk benang yang menggunakan denier besar menggunakan larutan kanji yang kental dan diusahakan agar larutan kanji mampu penetrasi ke benang dengan baik.

Contoh- contoh resep Polyester 100%:


(To be continued...............)


I.7. Benang Rayon Staple dan Polynosic Staple

Diantara segala jenis serat, serat rayon dan Polynosic merupakan serat yang paling gampang dilekati oleh obat kanji. Oleh karena itu serat ini cukup dikanji dengan menggunakan resep dengan KOMPOSISI UTAMA NYA STARCH dan dengan konsentrasi yang rendah. Hanya saja karena karakteristik serat Polynosic mirip seperti serat katun dan derajat elongasinya pun seperti katun tetapi karena knit strength nya lemah, maka jika dikanji terlalu kaku akan mengakibatkan elongasinya bertambah kecil dan benang menjadi seperti rapuh. Oleh karena itu disbanding dengan resep untuk rayon, resep untuk polynosic, KADAR STARCH NYA DIKURANG dan KADAR PVA NYA DITAMBAH AGAR HASIL PENGANJIAN MENJADI LEBIH SOFT.
Pada umumnya banyak benang spun rayon yang menggunakan serat dengan denier 2- 2.5  dan panjang serat 51 – 57 mm. Sedang untuk polynosic banyak yang menggunakan serat ber denier 1.2 – 1.5  dan panjang serat 35 – 38 mm. Sifat serat Polynosic mirip seperti sifat serat katun, sehingga bias dipintal hingga ukuran kecil (Ne tinggi). Oleh karena itu benang rayon sering bernomor besar, maksimum sampai no Ne40s, sedangkan serat polynosic sering dibuat untuk benang kecil dari no Ne40s sampai Ne60s.
Contoh- contoh resep Rayon/ Polynosic.

1.       Benang Rayon Staple 30s Mosu

Corn Starch
PVA  medium partially hydrolyzed
Wax
Total
4.5%
0.5%
0.4%
5.4%



2. Benang Rayon Staple 30s Mosu


Corn Starch
PVA  medium partially hydrolyzed
Wax
Total




3. Polynosic 40s Shitsuji
Corn Starch
PVA  medium partially hydrolyzed
Wax
Total




4. POLYNOSIC 60S lAWN
Corn Starch
PVA  medium partially hydrolyzed
Wax
Total






Corn Starch
PVA  medium partially hydrolyzed
Wax
Total




   
Keterangan:

  1. Tentang berat ringannya suatu konstruksi ditentukan dari besar kecilnya Cover Factor. Makin berat suatu konstruksi, makin tinggi konsentrasi formulanya dan makin tinggi pula Size Pick Up nya.

 

                                               Tetal lusi          Tetal pakan
          Rumus Cover Factor  (CF)  = --------------   +   ---------------
                                                    √  Ne.  lusi          √  Ne. pakan 
 

     Dimana:
  • CF = 30 – 37 = Konstruksi berat (High density)
  • CF = 20 – 29 = Konstruksi sedang (Medium density)
  • CF = < 20     =  Konstruksi ringan ( Light density)

  1. Kombinasi dan jenis obat yang dipakai tergantung juga dengan permintaan Customer. Sebagai contoh: untuk kain GUMMED TAPE  yang akan dilapis dan di-  LAMINATED, bahan silicone dan Carboxyl Methyl Cellulose tak boleh digunakan, karena kedua bahan tersebut menyebabkan GAGAL pada proses laminasi.

  1. Bila kita bandingkan beberapa resep diatas, dapat kita lihat bahwa resep untuk Rayon adalah resep termurah, disusul resep untuk Cotton, Cvc, TC, dan yang termahal adalah resep untuk Spun Polyester. Resep untuk Rayon adalah sangat murah karena daya serapnya yang sangat tinggi dan kekuatan bulu yang rendah dan tak mudah timbul karena benang rayon dapat menyerap air dari udara yang dapat mencegah ELECTRO STATIC EFECT, sehingga pada resep tidak diperlukan konsentrasi yang tinggi dan tidak membutuhkan COVERING untuk menutup bulu yang tebal, karena bulu tidak timbul atau kalau timbul dia akan putus pada saat saling berkaitan.

  1.  Sebaliknya benang Spun Polyester, bulu- bulunya sangat kuat dan mudah timbul karena electro static, sehingga bila tidak cukup COVERING, maka pada saat proses pertenunan akan terjadi saling tarik menarik dan kait- mengait  sehingga timbul PILLING (permuka an kain ada benang- benang berbutir)  dan   dapat   berakibat  laju  GERAKAN PAKAN (Filling insertion) pada mesin Air Jet terhambat dan menyebabkan STOP  PAKAN  yang tinggi, dengan kualitas kain yang rendah karena terjadinya PILLING dan juga cacat seper ti double pick atau FILLING BAR (cacat tebal tipis searah pakan karena mesin sering stop)





------------------------------UNDER CONSTRUCTION-------------------------------
See: Fukada Kaname & Ichimi Terihiko: How To Size Warp Yarn- Nihon Sen-I Kikai.

Catatan:
Diijinkan untuk mengutip sebagian kecil artikel ini--tidak boleh seluruhnya -- untuk dimuat di situs lain dengan menyebutkan link dan sumber. Apabila ditemukan copy/paste seluruh artikel atau tanpa menyebutkan sumber, akan diajukan ke DMCA Google Complaints supaya di-banned dari Google search. Harap maklum.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar